Nomor Katalog : 1399013.3374
Nomor Buku : 33740.2034
ISBN : 978-623-94845-7-6
Tanggal Rilis : 2020-10-07
Nomor Buku : 33740.2034
ISBN : 978-623-94845-7-6
Tanggal Rilis : 2020-10-07
Analisis Hasil Survei Kebutuhan Data Kota Semarang 2019
Survei Kebutuhan Data (SKD) adalah survei yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengidentifikasi kebutuhan data statistik dan tingkat kepuasan konsumen terhadap data dan pelayanan BPS. SKD dilaksanakan oleh Direktorat Diseminasi Statistik melalui Subdirektorat Rujukan Statistik sejak tahun 2005. Pada tahun 2019, BPS kembali menyelenggarakan SKD di BPS Pusat, 33 BPS Provinsi, dan 477 BPS Kabupaten/Kota. Hasil SKD 2019 disajikan dalam bentuk publikasi yang berisi analisis karakteristik konsumen, analisis kebutuhan data, analisis kepuasan kualitas data, dan analisis kepuasan layanan. Analisis ini dilengkapi dengan penyajian dalam bentuk Indeks Kepuasan Konsumen (IKK)
Sumber: BPS Kota Semarang | Publish: Senin, 24 Mei 2021 07:47 | 4 tahun yang lalu | 1605
Survei Kebutuhan Data (SKD) adalah survei yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengidentifikasi kebutuhan data statistik dan tingkat kepuasan konsumen terhadap data dan pelayanan BPS. SKD dilaksanakan oleh Direktorat Diseminasi Statistik melalui Subdirektorat Rujukan Statistik sejak tahun 2005. Pada tahun 2019, BPS kembali menyelenggarakan SKD di BPS Pusat, 33 BPS Provinsi, dan 477 BPS Kabupaten/Kota. Hasil SKD 2019 disajikan dalam bentuk publikasi yang berisi analisis karakteristik konsumen, analisis kebutuhan data, analisis kepuasan kualitas data, dan analisis kepuasan layanan. Analisis ini dilengkapi dengan penyajian dalam bentuk Indeks Kepuasan Konsumen (IKK)
Sumber: BPS Kota Semarang | Publish: Senin, 24 Mei 2021 07:47 | 4 tahun yang lalu | 1605
LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI JAWA TENGAH NOVEMBER 2019
Perkembangan Ekonomi Makro Daerah Pada triwulan III 2019, Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah tercatat sebesar Rp351,48 triliun. Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan laporan terpantau tumbuh menguat menjadi 5,66% (yoy), dari triwulan II 2019 yang tercatat 5,52% (yoy). Capaian ini lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi Bank Indonesia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2019 berada pada kisaran 5,3%-5,7%. Angka pertumbuhan ini berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional (5,02%; yoy) dan Kawasan Jawa (5,56%; yoy)
Sumber: BANK INDONESIA | Publish: Selasa, 11 Mei 2021 03:05 | 5 tahun yang lalu | 1033
Perkembangan Ekonomi Makro Daerah Pada triwulan III 2019, Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah tercatat sebesar Rp351,48 triliun. Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan laporan terpantau tumbuh menguat menjadi 5,66% (yoy), dari triwulan II 2019 yang tercatat 5,52% (yoy). Capaian ini lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi Bank Indonesia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2019 berada pada kisaran 5,3%-5,7%. Angka pertumbuhan ini berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional (5,02%; yoy) dan Kawasan Jawa (5,56%; yoy)
Sumber: BANK INDONESIA | Publish: Selasa, 11 Mei 2021 03:05 | 5 tahun yang lalu | 1033
LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI JAWA TENGAH AGUSTUS 2019
Pada triwulan II 2019, Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah tercatat sebesar Rp339,8 triliun. Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan laporan terpantau tumbuh menguat menjadi 5,62% (yoy), dari triwulan I 2019 yang tercatat 5,12% (yoy).
Sumber: BANK INDONESIA | Publish: Selasa, 11 Mei 2021 03:01 | 5 tahun yang lalu | 1040
Pada triwulan II 2019, Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah tercatat sebesar Rp339,8 triliun. Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan laporan terpantau tumbuh menguat menjadi 5,62% (yoy), dari triwulan I 2019 yang tercatat 5,12% (yoy).
Sumber: BANK INDONESIA | Publish: Selasa, 11 Mei 2021 03:01 | 5 tahun yang lalu | 1040
LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI JAWA TENGAH MEI 2019
Pada triwulan I 2019, perekonomian Jawa Tengah terpantau tumbuh melambat menjadi 5,14% (yoy), dari triwulan IV 2018 yang tercatat 5,28% (yoy). Angka pertumbuhan ini berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan laporan (5,07%; yoy), namun masih berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi Kawasan Jawa (5,66%; yoy). Ditinjau dari sisi pengeluaran, melambatnya pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2018 terutama bersumber dari ekspor luar negeri seiring dengan permintaan luar negeri yang melemah. Selanjutnya, perlambatan impor luar negeri khususnya berupa migas berdampak pada terbatasnya bahan baku kegiatan industri yang memberikan nilai tambah lebih besar, sehingga hal ini berdampak pada tertahannya kinerja ekspor antardaerah Jawa Tengah. Perlambatan net ekspor antardaerah menyebabkan kontribusi komponen ini turun relatif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Di sisi lain, permintaan domestik terpantau masih cukup kuat. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT), dan konsumsi pemerintah yang mencatatkan perbaikan pada triwulan laporan. Lebih lanjut, investasi juga tercatat tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2018. Ditinjau dari sisi lapangan usaha, melemahnya kinerja tiga lapangan usaha utama Jawa Tengah yaitu industri pengolahan; pertanian, kehutanan, dan perikanan; serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor; menjadi sumber perlambatan laju perekonomian Jawa Tengah di triwulan I 2019. Meskipun demikian, membaiknya kinerja lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum; informasi dan komunikasi; serta konstruksi dapat menjadi penahan perlambatan ekonomi lebih dalam di triwulan ini.
Sumber: BANK INDONESIA | Publish: Selasa, 11 Mei 2021 02:58 | 5 tahun yang lalu | 1230
Pada triwulan I 2019, perekonomian Jawa Tengah terpantau tumbuh melambat menjadi 5,14% (yoy), dari triwulan IV 2018 yang tercatat 5,28% (yoy). Angka pertumbuhan ini berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan laporan (5,07%; yoy), namun masih berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi Kawasan Jawa (5,66%; yoy). Ditinjau dari sisi pengeluaran, melambatnya pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2018 terutama bersumber dari ekspor luar negeri seiring dengan permintaan luar negeri yang melemah. Selanjutnya, perlambatan impor luar negeri khususnya berupa migas berdampak pada terbatasnya bahan baku kegiatan industri yang memberikan nilai tambah lebih besar, sehingga hal ini berdampak pada tertahannya kinerja ekspor antardaerah Jawa Tengah. Perlambatan net ekspor antardaerah menyebabkan kontribusi komponen ini turun relatif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Di sisi lain, permintaan domestik terpantau masih cukup kuat. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT), dan konsumsi pemerintah yang mencatatkan perbaikan pada triwulan laporan. Lebih lanjut, investasi juga tercatat tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2018. Ditinjau dari sisi lapangan usaha, melemahnya kinerja tiga lapangan usaha utama Jawa Tengah yaitu industri pengolahan; pertanian, kehutanan, dan perikanan; serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor; menjadi sumber perlambatan laju perekonomian Jawa Tengah di triwulan I 2019. Meskipun demikian, membaiknya kinerja lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum; informasi dan komunikasi; serta konstruksi dapat menjadi penahan perlambatan ekonomi lebih dalam di triwulan ini.
Sumber: BANK INDONESIA | Publish: Selasa, 11 Mei 2021 02:58 | 5 tahun yang lalu | 1230
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH FEBRUARI 2019
Pada triwulan IV 2018, perekonomian Jawa Tengah mencatatkan percepatan pertumbuhan menjadi sebesar 5,28% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (5,21%; yoy), dan di atas pertumbuhan ekonomi nasional (5,18%; yoy). Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan Kawasan Jawa sebesar 5,82% (yoy). Ditinjau dari sisi pengeluaran, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan IV 2018 berasal dari komponen konsumsi swasta, yang terdiri dari konsumsi rumah tangga dan konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT), serta konsumsi pemerintah. Sementara, kinerja investasi dan ekspor luar negeri tetap tumbuh meskipun mengalami perlambatan dari triwulan sebelumnya. Impor luar negeri Jawa Tengah masih tercatat tumbuh relatif signifikan, meskipun mulai melandai dibanding dua triwulan sebelumnya. Sebagai komponen pengurang PDRB, relatif tingginya pertumbuhan impor menahan perekonomian Jawa Tengah untuk tumbuh lebih tinggi. Ditinjau dari sisi lapangan usaha, meningkatnya pertumbuhan industri pengolahan serta perdagangan besar dan eceran menjadi pendorong laju pertumbuhan ekonomi. Lebih lanjut, tingginya pertumbuhan lapangan usaha transportasi dan pergudangan turut mendorong pertumbuhan pada triwulan laporan. Namun demikian, melambatnya pertumbuhan lapangan usaha pertanian dibanding triwulan sebelumnya menjadi faktor penahan laju pertumbuhan ekonomi.
Sumber: BANK INDONESIA | Publish: Selasa, 11 Mei 2021 02:53 | 5 tahun yang lalu | 1031
Jumlah Data : 33 Pada triwulan IV 2018, perekonomian Jawa Tengah mencatatkan percepatan pertumbuhan menjadi sebesar 5,28% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (5,21%; yoy), dan di atas pertumbuhan ekonomi nasional (5,18%; yoy). Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan Kawasan Jawa sebesar 5,82% (yoy). Ditinjau dari sisi pengeluaran, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan IV 2018 berasal dari komponen konsumsi swasta, yang terdiri dari konsumsi rumah tangga dan konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT), serta konsumsi pemerintah. Sementara, kinerja investasi dan ekspor luar negeri tetap tumbuh meskipun mengalami perlambatan dari triwulan sebelumnya. Impor luar negeri Jawa Tengah masih tercatat tumbuh relatif signifikan, meskipun mulai melandai dibanding dua triwulan sebelumnya. Sebagai komponen pengurang PDRB, relatif tingginya pertumbuhan impor menahan perekonomian Jawa Tengah untuk tumbuh lebih tinggi. Ditinjau dari sisi lapangan usaha, meningkatnya pertumbuhan industri pengolahan serta perdagangan besar dan eceran menjadi pendorong laju pertumbuhan ekonomi. Lebih lanjut, tingginya pertumbuhan lapangan usaha transportasi dan pergudangan turut mendorong pertumbuhan pada triwulan laporan. Namun demikian, melambatnya pertumbuhan lapangan usaha pertanian dibanding triwulan sebelumnya menjadi faktor penahan laju pertumbuhan ekonomi.
Sumber: BANK INDONESIA | Publish: Selasa, 11 Mei 2021 02:53 | 5 tahun yang lalu | 1031
